Tampilkan postingan dengan label Filosofi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Filosofi. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 26 Mei 2012

Falsafah hidup jawa

Dalam berfilosofi, orang Jawa seringkali menggunakan unen-unenuntuk menata hidup manusia. Makna dari ungkapan-ungkapan Jawa ini seringkali tidak dipahami oleh sebagian besar keturunan etnis Jawa di era modern ini. Maka tidak salah, jika muncul sebutan,"Wong Jowo sing ora njawani".
Filosofi Jawa dinilai sebagai hal yang kuno dan ketinggalan jaman. Padahal, filosofi leluhur tersebut berlaku terus sepanjang hidup. Warisan budaya pemikiran orang Jawa ini bahkan mampu menambah wawasan kebijaksanaan.
Berikut 10 dari sekian banyak falsafah yang menjadi pedoman hidup orang Jawa.
1. Urip Iku Urup
Hidup itu Nyala, Hidup itu hendaknya memberi manfaat bagi orang lain disekitar kita, semakin besar manfaat yang bisa kita berikan tentu akan lebih baik.

2. Memayu Hayuning Bawana, Ambrasta dur Hangkara

Manusia hidup di dunia harus mengusahakan keselamatan, kebahagiaan dan kesejahteraan; serta memberantas sifat angkara murka, serakah dan tamak.
3. Sura Dira Jaya Jayaningrat, Lebur Dening Pangastuti
segala sifat keras hati, picik, angkara murka, hanya bisa dikalahkan dengan sikap bijak, lembut hati dan sabar.
4. Ngluruk Tanpa Bala, Menang Tanpa Ngasorake, Sekti Tanpa Aji-Aji, Sugih Tanpa Bandha
Berjuang tanpa perlu membawa massa. Menang tanpa merendahkan atau mempermalukan. Berwibawa tanpa mengandalkan kekuasaan, kekuatan,kekayaan atau keturunan. Kaya tanpa didasari kebendaan.

5. Datan Serik Lamun Ketaman, Datan Susah Lamun Kelangan

Jangan gampang sakit hati manakala musibah menimpa diri. Jangan sedih manakala kehilangan sesuatu.
6. Aja Gumunan, Aja Getunan, Aja Kagetan, Aja Aleman
Jangan mudah terheran-heran. Jangan mudah menyesal. Jangan mudah terkejut-kejut. Jangan mudah ngambeg, jangan manja.
7. Aja Ketungkul Marang Kalungguhan, Kadonyan lan Kemareman
Janganlah terobsesi atau terkungkung oleh keinginan untuk memperoleh kedudukan, kebendaan dan kepuasan duniawi.
8. Aja Kuminter Mundak Keblinger, Aja Cidra Mundak Cilaka
Jangan merasa paling pandai agar tidak salah arah. Jangan suka berbuat curang agar tidak celaka.
9. Aja Milik Barang Kang Melok, Aja Mangro Mundak Kendo
Jangan tergiur oleh hal-hal yang tampak mewah, cantik, indah; Jangan berfikir mendua agar tidak kendor niat dan kendor semangat.
10. Aja Adigang, Adigung, Adiguna
Jangan sok kuasa, sok besar, sok sakti.

Jumat, 25 Mei 2012

Bercermin dari sang Elang




Semua orang pasti tahu hewan terbang yang bernama eLang. Bahkan semenjak kita duduk di bangku taman kanak-kanak, jenis burung satu ini sudah sangat famiLiar sebagai hewan yang perkasa di angkasa. OK… tanpa perLu berteLe-teLe Lagi, Langsung saja kita pada kisahnya. SiLakan… ELang merupakan jenis unggas yang mempunyai umur paLing panjang di dunia yaitu bisa mencapai 70 tahun. Untuk mencapai umur sepanjang itu seekor eLang harus membuat suatu keputusan yang sangat berat pada umurnya yang ke-40.

Ketika eLang sampai pada umur 40 tahun, cakarnya muLai menua, paruhnya menjadi panjang dan membengkok sehingga hampir menyentuh dadanya. Sayapnya menjadi sangat berat karena buLunya teLah tumbuh Lebat dan tebaL, haL itu akan sangat menyuLitkan sewaktu terbang. Pada saat itu, eLang hanya mempunyai dua pilihan : 
Menunggu kematian
MenjaLani proses transformasi yang sangat menyakitkan

Proses transformasi berlangsung seLama 150 hari. Untuk dapat meLakukan haL tersebut, elang harus berusaha keras terbang ke puncak gunung untuk kemudian membuat sarang ditepi jurang dan tinggaL disana seLama proses transformasi berLangsung.

Pertama-tama, eLang harus mematukkan paruhnya pada batu karang sampai paruh tersebut terLepas, kemudian berdiam beberapa Lama menunggu tumbuhnya paruh baru. Paruh yang baru tumbuh itu digunakan untuk mencabut satu persatu cakar-cakarnya dan harus berdiam menunggu sampai cakar yang baru bertumbuh. Yang terakhir adaLah mencabut seLuruh buLu badannya satu demi satu. Suatu proses yang panjang dan menyakitkan.

Lima buLan kemudian, buLu-buLu eLang yang baru sudah tumbuh dan dapat terbang kembaLi. Dengan paruh dan cakar baru maka eLang akan muLai menjalani 30 tahun kehidupan barunya dengan penuh energi!

Apa yang dapat kita petik dari kisah ELang tersebut…? Dalam kehidupan ini, kadang kita harus mengambiL suatu keputusan yang sangat berat untuk memuLai suatu proses pembaruan. Kita harus berani dan mau membuang semua kebiasaan Lama yang mengikat, meskipun haL itu semua adaLah sesuatu yang menyenangkan bahkan meLenakan kita.

Selanjutnya kita harus mampu ikhLas untuk meninggaLkan periLaku Lama kita agar bisa muLai terbang Lagi menggapai tujuan yang Lebih baik di masa depan. Hanya biLa kita bersedia meLepaskan beban Lama, membuka diri untuk beLajar pada haL-haL baru, maka kita akan mempunyai kesempatan untuk mengembangkan kemampuan kita yang kadangkaLa masih terpendam sehingga hasiL akhirnya adaLah terasahnya keahLian baru sehingga mampu menatap masa depan dengan penuh keyakinan.

HaLangan terbesar untuk berubah terLetak di daLam diri sendiri dan AndaLah Sang Penguasa atas diri anda. Jadi jangan biarkan masa LaLu menumpuLkan asa dan meLayukan semangat kita. Mari kita berkaca pada ELang!!!

Perubahan pasti akan terjadi, oLeh karena itu kita harus berubah!!!

Kamis, 24 Mei 2012

Bacalah, karena alam adalah tempat belajar yang baik.


Alam ini tertera banyak ayat bahkan segala sesuatunya, dalam alam tersebar banyak utusan bahkan apapun itu, yang artinya ada berlimpah ruah pelajaran mengenai hakikat, yang setiap itu melekat pada makhluk ciptaan-Nya. Hanya saja ada kesadaran yang begitu sulit ditemukan dalam diri ini.
Bacalah, karena alam adalah tempat belajar yang baik.
Kadang saya membayangkan kehidupan sebagai seekor semut hitam. Sosok makhluk kecil yang didalam banyak ayat menganalogikan sesuatu yang memiliki kemungkinan paling kecil untuk disadari, bahwa dia (seekor semut hitam) yang berada diatas batu hitam kelam dalam pekatnya malam, tak akan lepas dari kesadaran seorang yang menyadari “Diri”-nya.
Pagi ini saya (semut hitam), kembali melakukan rutinitas sehari-hari; keluar dari sarang setelah sepanjang hari beraktivitas memenuhi banyak kebutuhan akan makan dan banyak lagi keinginan akan libido, sangat senang berinteraksi dengan kawan-kawan sesama semut hitam, berjabat-bercengkrama sebarang waktu, kedua antena menggiring ketempat dimana ada makanan, jika badanku sedikit besar lagi mungkin akan kuangkut juga sepiring makanan, entah senyawa apa yang menarikku berjalan kesana-kemari, modus bekerjaku mangikuti naluri, jika sekali hajat ku terancam akan kugigit, akan kugigit, dan akan kugigit, karena seringkali ku terancam oleh pemegang-pemegang kekuasaanmisalnya manusia, tapi mungkin lebih tepat kusebut dengan – binatang lainnya yang jauh lebih besaryang katanya makhluk paling tinggi derajatnya, namun seringkali kudapati tidak demikianSaya sangat instinktif, hingga saya kembali lagi kesarang, dan mempersiapkan diri untuk rutinitas esok hari, yang seperti itu lagi, dan yang tak kusadari.
Entah apa yang menarik perhatianku padamu sang sosok semut, hingga ketika kau menggigitku berakhir pula rutinitasmu itu. Gigitanmu menyadarkan pada waktu yang kurasa begitu cepat berlalu, yang ternyata tak bersandar pada pagi, siang ataupun malam, atau pada detik-detik jam dinding, yang kutahu hanya pertanyaan akan kesenangan apa lagi yang ingin dan belum kulakukan, tuntutan dunia apa lagi yang harus kupenuhi, hingga kau datang menggigitku.
Ini berarti: pencarian kembali makna lestari, jika kerusakan lingkungan hanyalah lahan gersang tak subur, pencemaran lingkungan oleh limbah industri ataukah hanya penebangan hutan secara ilegal. Terlebih lagi diriku hanya mendaki, mendaki, dan mendaki puncak  gunung. Karena, dalam diri ada cara pandang dan kesadaran yang sungguh gersang, dalam diri ada limbah yang mengalir dalam setiap ucapan tak bertanggungjawab, dalam diri ada tindakan amoral yang seringkali diwajarkan. Karena yang kudaki hanyalah ego-ego yang hanya mengantarkanku pada puncak egosentris.
Lihatlah megah makna lingkungan, jika begitu eksklusif-nya menjadi sang “pencinta” dan “alam”-lah yang ingin dicinta. Mencari makna hidup dalam keterasingan diri dalam sokongan daun lontar sementara gambaran jagad raya ini begitu luas, tak terhingga, tak terjangkau, yang ungkapan-ungkapan itu hanyalah keterbatasan khayal yang manusia miliki.
Bahwa setiap kita yang terdalam tak memiliki alasan untuk mengingkari kemungkinan keberadaan semut kecil hitam diatas kelamnya batu hitam dalam pekatnya malam.
Kesadaran itu ada dalam alam malam, dan bahwa setiap kita memiliki semut kecil hitam yang tak kita sadari yang mempertanyakan kehidupannya diatas batu hitam kelam. Yang menjalankan kehidupannya dalam ketak-sadaran diri, kehitaman diri diatas batu hitam. Malam menjadi hilang diri karena menyatu bersama batu yang hitam. Batu menjadi samar karena malam melingkupi dan menyatu. Apalagi kau, sang semut yang tercipta hitam dilingkupi namun tak menyadari, menyatu namun mengingkari. Siapa yang menanggung keadaan itu? Semut yang hitam? Alam yang hitam?
Menyadari ketakterbayangkannya alam ini (kosmologi), akan sedikit membantu kita dalam kesahajaan tindakan, ucapan dan pemikiran (cara pandang). Namun, hal itu bukanlah hanya sebentuk gagasan transcendental yang berakhir pada rangkaian kalimat logis menggugah hati yang rindu, lantas mengawang diudara menguap bersama bunyi-bunyi yang melalui rongga, tak beda dengan kentut busuk. Bahwa menyadari kosmos yang maha luas, berarti menjadi gelisah akan kosmos diri yang begitu dalam.

Rabu, 15 Februari 2012

Secercah Asa, .

Panas terik sinar sang surya tak menyurutkan semangatku untuk terus mengayuh sepeda tua yang sudah 10 tahun menemaniku dalam mencari nafkah. peluh bercucuran semakin membuatku tegar menjalani semua ini. apalagi bila tringat senyuman istri dan anak semata wayangku tatkala menyambut kedatanganku, rasanya letih tubuh ini hilanglah sudah.
Hari ini terasa begitu berat, dari subuh tadi sampai sekarang memasuki waktu ashar tak satupun daganganku laku. ya Allah…apa yang harus kukatakan kepada istri dan anakku? hatiku mulai berkecamuk berjuta perasaan ada marah, kesal dan aku nyaris putus asa, tapi jika aku menyerah sekarang bagaimana dengan anak dan istriku? ya Allah berikan hamba kekuatan.
Kuhentikan laju sepedaku lalu kutuntun kedalam pelataran masjid kulangkahkan kaki menuju tempat wudlu, lagi-lagi rasa gelisah dating mengusik. kuhirup napas dalam-dalam lalu menghembuskannya parlahan, “Bismillah…”. kumulai berwudhu mesti hatiku masih resah namun kucoba untuk tak memedulikanya.
Aku telah menyelesaika rakaat terakhir kemudian mengucap salam ketika kudengar gemercik air hujan yang jatuh kepangkuan bumi.”Alhamdulilah Allah telah melimpahkan rahmatnya.” Aku mengucap sukur meski kusadar bahwa nanti aku pasti kehujanan karena aku lupa membawa paying. sudahlah..aku mulai berdoa dengan khusuk, kurangkai kata-kata dengan begitu indah untuk mengagungkan Asma Allah.

****

Dengan langkah lebar setengah berlari sembarimenuntun sepedaku, kuterobos hujan yang turun semakin deras. kulirik daganganku kalau-kalau terkena air hujan. lega terpancar diwajahku setelah mengetahui kripik tempe yang terbungkus plastic tak kemasukan air. kuhentikan langkahku tepat didepan rumah yang sangat sederhana tempat aku dan keluarga kecilku tinggal. seperti biasa anakku, Sekar, telah siap menyambut kedatanganku di depan pintu.
“Assalamu’alaikum…!”
“Waallaikumsalam..” jawabnya lalu menyodorkan handuk kering. aku tersenyum meski hatiku perih Ya Allah Engkau memberikan malaikat kecil yang selalu membuat aku bangga dan bahagia namun sampai detik ini aku tak bias membuatnya bahagia. Nak maafkan bapak… hatiku semakin teriris perih ketika kulihat istriku bergelut asap didapur, mengusap peluh dikeningnya sembari menggoreng pisang yang akan kita jual nanti malam. rasanya dada ini sesak, akupun tak sanggup lagi menahan air matau. namun aku harus tetap tegar agar mereka tak ikut bersedih.
“Bu…” panggilku penuh keraguan.
“Oh. Bapak sudah pulang… maaf Pak, Ibu keasyikan masak sampai tidak tahu kalau bapak sudah pulang.”
aku tersenyum simpul.
“Bapak mau bicara sebentar. Bu,” kataku tanpa sedikitpun menatap wajahnya.
“Baju Bapak basah? Cepat ganti baju atau mandi saja dulu pak, nanti bapak sakit! bicaranya nanti malam saja!”
“ya sudah, Bapak mandi dulu,” kataku datar.
“biar Sekar menyiapkan baju ganti bapak.” usul anakku dengan semangat dan secepat kilat berlari menuju kamar.

****
Sekar menatap santapan makan malam tanpa berkedip. mungkin dibenaknya tersimpan kekecewaan karena untuk esekian kalinya makan malam kita hanya krupuk sambal dan kecap.
“kenapa? sekar bosan ya setiap hari makan it uterus?” tanyaku.
“nggak kok pak?” jawabnya lalu bergegas mengambil nasi berikut lauknya kemudian makan dengan lahab. aku dan istriku saling menatap. mungkin kami merasakan hal yang sama.
“oya, Bapak tadi katanya mau bicara?” Tanya istriku.
Aku menunduk terdiam. kukumpulkan keberanian yang ada dalam diriku dan kurangkai kata-kata yang tak menyakitkan hati sebelum menjawabnya.
“maafkan Bapak Bu… hari ini bapak tak mendapat uang sepeser pun…”
“berarti besok Sekar belum bisa bayar uang sekolah dong Pak?” potong Skar. Aku mengangguk.
Ya Allah aku merasa berdosa sekali karena telah membawa mereka kedalam penderitaan ini. “Sekar maafin bapak…” batinku.
“Sekar tidak usah khawatir besok Sekar bisa bayar kok, Ibu masih punya simpanan kalung pemberian eyang, besok pagi-pagi sekali ibu akan jual nanti uang bis abuat bayar sekolah.”
hatiku remuk redam mendengar ucapan istriku aku merasa lemah sekarang, seharusnya aku yang mencukupi kebutuhan mereka tapi, istrikulah yang sampai saat ini banyak berkorban.
“baik. Sekar, Ibu… mulai sekarang bapak akan bekerja keras… berjuang sampai titik darah penghabisan agar kita bisa keluar bari penderitaan ini dan mulai sekarang kita hidupkan shalat malam.. berpuasa, perbanyak berdoa kepada Allah karena hanya Dia-lah satu-satunya tempat kita meminta pertolongan!” ucapku dengan semangat berkobar.

****
aku semakin tegar menjalani hari-hari, kucurahkan seluruh jiwa raga agar bisa mengubah nasibku. tak henti-hentinya aku berdoa agar diberikan kemudahanmenjalani semua ini, begitu juga istriku yang tak pernah absent mendampingiku shalt malam, tak ketinggalan sekar yang selalu giat tadarus seusai shalat maghrib.

****
Satu tahun kemudian
Akhirnya hidayah itu dating dan akhirnya Allah menjawab doa-doa kami. semua perjuanganku, istri dan anakku tak sia-sia. Pak Ahmad seorang pengusaha memberiku modal. Beliau melihat semangat juangku mengubah nasib yang begitu besar dan memberiku esempatan untuk mengembangkan usaha kripik tempe yang aku geluti selama 10 tahun terakhir ini. Alhamdulillah… berkat kerja keraskuserta dukungan dari istri dan anakku akhirnya usahaku berkembang pesat. aku telah membuka tiga cabang sekarang memberi rumah yang layak, dan semua kebutuhan kami terpenuhi. Alhamdulillah ya Allah… atas segala nikmat dan karunia yang telah Engkau berikan… meski dunia ini tak ada yang abadi, namun rahmat-Mu sarat arti.

Ya Allah… Engkau adalah satu-satunya alasan mengapa dia sanggup bertahan melewati ujian hidup yang ngkau gariskan padanya dan kemurahan-Mu jawaban atas benih keikhlasan yang ia tabur selama ini. Lihatlah ya Allah.. senyuman itu telah kembali, kebahagiaan itu tak meredup… dan aku cemburu. sungguh aku tak ingin bermalas-malasan. takkan kubuang waktuku dengan percuma, aku akan terus berusaha dan takkan menyerah menjalani hidup ini. 
Itu janjiku ya Allah…

Senin, 30 Januari 2012

Wahai...

Engkau yang sedang merindukan belahan jiwamu, 
Janganlah pasrah untuk menerima apa adanya, 
atau menuntut apapun yang terbaik bagi dirimu yang tak pernah berencana untuk memperindah diri... 


Dan janganlah engkau menanti sepenuhnya siap, karena engkau tak akan pernah siap,.. 


Berdoala, semoga Tuhan merestui pilihanmu untuk jiwa yang membaikkanmu, .


Yang akan tumbuh bersamamu dalam keluarga yang berbahagia, 
dan setia di sisimu dalam kesulitan...
Amin.

Jumat, 27 Januari 2012

Anak Cacat Itu Bernama Salim


Belum sampai 30 tahun usiaku ketika istriku melahirkan anak pertamaku. Masih aku ingat malam itu, dimana aku menghabiskan malam bersama dengan teman-temanku hingga akhir malam, dimana waktu semalaman aku isi dengan ghibah dan komentar-komentar yang haram. Akulah yang paling banyak membuat mereka tertawa, membicarakan aib manusia, dan mereka pun tertawa.

Aku ingat malam itu, dimana aku membuat mereka banyak tertawa. Aku punya bakat luar biasa untuk membuat mereka tertawa. Aku bisa mengubah nada suara hingga menyeruapi orang yang aku tertawakan. Aku menertawakan ini dan itu, hingga tidak ada seorangpun yang selamat dari tertawaanku walaupun ia adalah para sahabatku. Hingga akhirnya sebagian dari mereka menjauhiku agar selamat dari lisanku.

Aku ingat pada malam itu aku mengejek seorang yang buta, yang aku melihatnya sedang mengemis di pasar. Lebih buruk lagi, aku meletakkan kakiku di depannya untuk mendorongnya hingga ia goyah dan jatuh, hingga dia berpaling dengan kepalanya dan tidak mengetahui apa yang ia katakan. Leluconku menyebabkan orang-orang yang ada di pasar tertawa.

Aku kembali ke rumah dalam keadaan terlambat seperti biasa. Aku mendapati istriku yang sedang menungguku tengah bersedih. Dia bertanya padaku, darimana saja aku? Aku menjawabnya dengan sinis, "Aku lelah." Kelelahan tampak jelas diwajahnya. Ia berkata dengan menangis tersedu, "Aku lelah sekali, tampaknya waktu persalinanku sudah dekat."

Dalam diamnya, air matanya menetes di pipinya. Aku merasa bahwa aku telah mengabaikan istriku dalam hal ini. Seharusnya aku memperhatikannya dan mengurangi begadangku, lebih khusus di bulan kesembilan dari kehamilannya ini. Akhirnya, aku membawanya ke rumah sakit dengan segera dan aku masuk ke ruang bersalin. Aku seakan merasakan sakit yang sangat beberapa saat. Aku menunggu persalinan istriku dengan sabar, tapi ternyata sulit sekali proses persalinannya. Aku menunggu lama sekali hingga aku kelelahan. Maka aku pulang ke rumah dengan meninggalkan nomor HP ku di rumah sakit dengan harapan mereka mengabariku.

Setelah beberapa saat, mereka menghubungiku dengan kelahiran Salim. Maka aku bergegas ke rumah sakit. Pertama kali mereka melihatku, aku bertanya tentang kamarnya. Tetapi mereka memintaku untuk menemui dokter yang bertanggung jawab dalam proses persalinan istriku. Aku berteriak kepada mereka: "Dokter apa? Aku hanya perlu melihat anakku." Akan tetapi mereka mengatakan: "Anda harus menemui dokter terlebih dahulu."

Akhirnya aku menemui dokter tersebut. Lantas dia berbicara kepadaku tentang musibah dan ridha terhadap takdir. Kemudian ia berkata: "Mata kedua anak anda buruk, dan sepertinya dia akan kehilangan penglihatannya!"

Aku menundukkan kepala dan berusaha mengendalikan ucapanku. Aku jadi teringat dengan pengemis buta yang aku dorong di pasar dan menertawakannya di hadapan manusia.

Maha Suci Allah, sebagaimana engkau mengutuk, maka engkau akan dikutuk. Aku sangat sedih dan tidak mengetahui apa yang aku katakan. Kemudian aku ingat istri dan anakku. Aku berterima kasih kepada dokter atas kelemah lembutannya, lantas aku berlalu dan tidak melihat istriku. Adapun istriku maka dia tidak bersedih, dia ridha dan beriman terhadap takdir Allah. Seringkali ia menasehatiku untuk menjaga diri dari menertawakan orang lain, dan ia juga senantiasa mengulang-ulanginya agar aku tidak ghibah.

Kami keluar dari rumah sakit bersama Salim. Sungguh, aku tidak banyak memperhatikannya. Aku menganggapnya tidak ada di rumah. Ketika tangisannya sangat keras, aku lari ke lorong untuk tidur di sana. Sedangkan istriku sangat memperhatikan dan mencintainya. Sebenarnya aku tidak membencinya, tetapi masih belum bisa mencintainya.

Salim pun semakin besar. Mulailah dia merangkak, akan tetapi cara merangkaknya aneh. Umurnya hampir setahun, dan mulailah dia berjalan. Maka semakin jelas jika dia pincang. Maka beban yang berada di pundakku semakin besar. Setelah itu istriku melahirkan anak yang normal setelahnya, Umar dan Khalid. Berlalulah beberapa tahun dan Salim semakin besar, dan tumbuh besar pula saudara-saudaranya. Aku sendiri tidak seberapa suka duduk-duduk di rumah, seringkali aku menghabiskan waktu bersama dengan teman-temanku.

Istriku tidak pernah putus asa untuk senantiasa menasehatiku. Dia senantiasa mendoakanku agar mendapat hidayah. Dia tidak pernah marah terhadap perbuatanku yang gegabah. Akan tetapi, ia sangat bersedih jika melihatku banyak memperhatikan saudara-saudara Salim, sementara kepada Salim aku meremehkannya. Salim semakin besar dan harapanku kepadanya juga semakin besar. Aku tidak melarang ketika istriku memintaku agar mendaftarkan Salim di salah satu sekolah khusus penyandang cacat. Tidak terasa aku telah melalui beberapa tahun hanya aku gunakan untuk bekerja, tidur, makan dan begadang dengan teman-temanku.

Pada hari Jumat, aku bangun pada pukul 11.00 waktu zhuhur. Dan ini masih terlalu pagi bagiku, dimana ketika itu aku diundang untuk menghadiri suatu perjamuan. Aku berpakaian, mengenakan wewangian dan hendak keluar. Aku berjalan melalui lorong rumah, namun wajah Salim menghentikan langkahku. Dia menangis dengan meluap-luap!

Ini adalah kali pertama aku memperhatikan Salim semenjak dia masih kecil. Telah berlalu 10 tahun, tetapi aku tidak pernah memperhatikannya. Aku mencoba untuk pura-pura tidak tahu, tetapi tidak bisa. Aku mendengarkan suaranya yang sedang memanggil ibunya, sementara aku sendiri berada di dalam kamar. Aku melihatnya dan berusaha mendekat kepadanya. Aku berkata: "Salim, mengapa engkau menangis?" Ketika mendengar suaraku, ia berhenti menangis. Maka ketika ia merasa aku telah berada di dekatnya, dia mulai merasakan apa yang ada di sekitarnya dengan kedua tangannya yang kecil. Dengan apakah dia melihat? Aku merasa bahwa dia berusaha untuk menjauh dariku!! Seolah-olah ia berkata: "Sekarang engkau telah merasakan keberadaanku. Dimana saja engkau selama 10 tahun yang lalu?!" Aku mengikutinya, ia masuk ke dalam kamarnya. Ia menolak memberitahukan kepadaku sebab dari tangisannya. Maka aku mencoba untuk berlemah lembut kepadanya. Mulailah Salim menjelaskan sebab tangisannya. Aku mendengar ucapannya, dan aku mulai bangkit.

Apakah kalian tahu apa yang menjadi sebabnya!! Saudaranya, Umar, terlambat, terlambat mengantarkannya pergi ke masjid, sebab ketika itu adalah shalat jumat, dia khawatir tidak mendapatkan shaf pertama. Ia memanggil Umar, ia memanggil ibunya, akan tetapi tidak ada yang menjawabnya, akhirnya ia menangis. Aku melihat airmata yang mengalir dari kedua matanya yang tertutup. Aku belum bisa memahami kata-katanya yang lain. Aku meletakkan tanganku kepadanya dan berkata: "Apakah untuk itu engkau menangis, wahai Salim...?!"

Dia berkata, "Ya..."

Aku telah lupa dengan teman-temanku, aku telah lupa dengan undangan perjamuan.

Aku berkata: "Salim, jangan bersedih! Tahukah engkau siapakah yang akan berangkat denganmu pada hari ini ke Masjid?"

Ia berkata: "Dengan Umar tentunya, tetapi ia selalu terlambat."

Aku berkata: "Bukan, tetapi aku yang akan pergi bersamamu."

Salim terkejut, ia seakan tidak percaya. Dia mengira aku mengolok-oloknya. Dia meneteskan airmata kemudian menangis. Aku mengusap airmatnya dengan tanganku dan aku pegang tangannya. Aku ingin mengantarkannya dengan mobil, tetapi ia menolak seraya mengatakan: "Masjidnya dekat, aku hanya ingin berjalan menuju masjid!"

Aku tidak ingat kapan kali terakhir aku masuk ke dalam masjid. Akan tetapi ini adalah kali pertama aku merasakan adanya takut dan penyesalan atas apa yang telah aku lalaikan selama beberapa tahun belakangan. Masjid itu dipenuhi dengan orang-orang yang shalat, kecuali aku mendapati Salim duduk di shaf pertama. Kami mendengarkan khutbah jumat bersama, dan dia shalat di sampingku. Bahkan, sebenarnya akulah yang shalat di sampingnya.

Setelah shalat, Salim meminta kepadaku sebuah mushaf. Aku merasa aneh, bagaimana dia akan membacanya padahal ia buta? Aku hampir saja mengabaikan permintaannya dan berpura-pura tidak mengetahui permintaannya. Akan tetapi aku takut jika aku melukai perasaannya. Akhirnya aku mengambilkan sebuah mushaf. Aku membuka mushaf dan memulainya dari surat al Kahfi. Terkadang aku membalik-balik lembaran, terkadang pula aku melihat daftar isinya. Maka ia mengambil mushaf itu dari tanganku kemudian meletakkannya. Aku berkata: "Ya Allah, bagaimana aku mendapatkan surat al kahfi, aku mencari-carinya hingga mendapatkannya di hadapannya!!"

Mulailah ia membaca surat itu dalam keadaan kedua matanya tertutup. Ya Allah...!! Ia telah hafal surat al Kahfi secara keseluruhan...!

Aku malu pada diriku sendiri. Aku memegang mushaf, namun aku rasakan seluruh anggota badanku menggigil. Aku baca dan aku baca. Aku berdoa kepada Allah agar mengampuniku dan memberi petunjuk kepadaku. Aku tidak kuasa, maka mulailah aku menangis seperti anak kecil. Manusia masih berada di masjid untuk mendirikan shalat sunnah. Aku malu pada mereka, maka mulailah aku menyembunyikan tangisanku. Maka berubahlah tangisan itu menjadi isakan.

Aku tidak merasakan apa-apa ketika itu kecuali melalui tangan kecil yang meraba wajahku dan mengusap kedua airmataku. Dialah Salim!! Aku dekap dia ke dadaku dan aku melihatnya. Aku berkata kepada diriku sendiri, "Engkau tidaklah buta wahai anakku, akan tetapi akulah yang buta, ketika aku bersyair di belakang orang fasiq yang menyeretku ke dalam api neraka."

Kami kembali ke rumah. Istriku sangat gelisah terhadap Salim. Namun seketika itu juga kegelisahannya berubah menjadi airmata kebahagiaan ketika ia mengetahui bahwa aku telah shalat jumat bersama Salim.

Sejak saat itu, aku tidak pernah ketinggalan untuk mendirikan shalat jamaah di masjid. Aku telah meninggalkan teman-teman yang buruk. Sekarang aku telah mendapatkan banyak teman yang aku kenal di masjid. Aku merasakan nikmatnya iman bersama mereka. Aku mengetahui dari mereka banyak hal yang dilalaikan oleh dunia. Aku tidak pernah ketinggalan mendatangi kelompok-kelompok pengajian atau shalat witir. Aku telah mengkhatamkan al Quran beberapa kali dalam sebulan. Lisanku telah basah dengan dzikir agar Allah mengampuni dosa-dosaku berupa ghibah dan menertawakan manusia. Aku merasa lebih dekat dengan keluargaku. Hilang sudah ketakutan dan belas kasihan yang selama ini ada di mata istriku. Senyuman tidak pernah pergi menjauhi wajah anakku, Salim. Siapa yang melihatnya akan mengira bahwa dia adalah seorang malaikat dunia beserta isinya. Aku banyak memuji Allah atas segala nikmat-Nya.

Suatu hari, teman-temanku yang shalih menetapkan diri melakukan safar untuk berdakwah. Aku ragu-ragu untuk pergi. Aku melakukan istikharah dan bermusyawarah dengan istri. Aku merasa dia akan menolak keinginanku. Akan tetapi ternyata sebaliknya, ia menyetujui keinginanku! Aku sangat bahagia, bahkan ia memotivasiku. Dia telah melihat masa laluku, dimana aku melakukan safar tanpa musyawarah dengannya sebagai bentuk kefasiqan dan perbuatan jahat.

Aku menghadap ke arah Salim. Aku mengabarinya jika aku hendak melakukan safar. Maka dia memegangku dengan kedua tangannya yang masih kecil sebagai ungkapan selamat jalan.

Aku telah meninggalkan rumahku lebih dari satu bulan. Selama itu, aku masih senantiasa menghubungi istriku dan juga berbicara kepada anak-anakku selama ada kesempatan. Aku sangat rindu kepada mereka. Ah, betapa rindunya aku kepada Salim. Aku sangat ingin mendengarkan suaranya. Dialah satu-satunya yang belum berbicara denganku semenjak aku melakukan safar. Bisa jadi karena dia berada di sekolah, bisa juga dia berada di masjid ketika aku menghubungi mereka.

Setiap kali aku berbicara dengan istriku perihal kerinduanku padanya (Salim), maka ia tertawa suka cita dan bahagia. Kecuali kali terakhir aku meneleponnya, aku tidak mendengar tawanya seperti biasa, suaranya berubah.

Aku berkata kepadanya: "Sampaikan salamku kepada Salim." Istriku menjawab: "Insya Allah...!" Kemudian ia terdiam.

Terakhir, aku pun kembali ke rumah. Aku ketuk pintu. Aku berangan-angan jika Salim yang akan membukakan pintu itu. Akan tetapi, aku mendapati anakku Khalid yang usianya belum sampai 4 tahun membukakan pintu. Aku gendong dia, dan dia berteriak-teriak: "Baba...baba..."

Aku tidak tahu kenapa dadaku berdebar ketika memasuki rumah.

Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk.

Istriku menyambutku. Wajahnya mulai berubah, seolah-olah kebahagiaannya dibuat-buat.

Aku perhatikan ia baik-baik kemudian aku bertanya: "Ada apa denganmu?"

Ia berkata: "Tidak apa-apa."

Tiba-tiba aku teringat Salim, maka aku berkata: "Dimana Salim."

Istriku menundukkan wajahnya dan tidak menjawab. Airmata yang masih hangat menetes di pipinya.

Aku berteriak, "Salim...! Di mana Salim?"

Aku mendengar suara anakku Khalid yang hanya bisa mengatakan: "Baba..."

"Salim telah melihat surga," kata istriku.

Istriku tidak kuasa dengan situasi ketika itu. Ia hendak menangis, hampir saja ia pingsan. Maka kemudian aku keluar dari kamar.

Aku tahu setelah itu, bahwa Salim terserang panas yang sangat tinggi beberapa hari sebelum kedatanganku. Istriku telah membawanya ke rumah sakit, ketika tiba disana maka ia menghembuskan nafas terakhir. Ruhnya telah meninggalkan jasadnya.

Aku mengira, anda semua wahai para pembaca akan menangis, dan air mata anda akan mengalir sebagaimana air mata kami juga mengalir. Anda akan tersentuh sebagaimana kami juga tersentuh. Aku berharap Anda semua tidak lupa untuk mendoakan Salim, lebih khusus lagi bagi ibunya yang tetap teguh menjalankan tugasnya walaupun suaminya pergi. Jadilah ibu tersebut seperti perusahaan sebenarnya yang menghasilkan kaum laki-laki yang kuat. Semoga Allah membalas amal kebaikannya.

Sumber diambil Dari Majalah Qiblati edisi 02 thn VII Yang Berjudul "Allah Azza wa Jalla Memberi Hidayah Kepada Siapa Yang Ia Kehendaki